Showing posts with label KHUTBAH IDUL ADHA. Show all posts
Showing posts with label KHUTBAH IDUL ADHA. Show all posts

3 SEGI UNTUK MENYINGKAP HIKMAH IDUL KURBAN



Peristiwa sejarah yang menandai hari raya 'Iedul Adl-ha adalah tugas berat yang dibebankan Allah swt. kepada Nabi Ibrahim as. agar beliau menyembelih puteranya, Nabi Isma'il as.
Dalam surat اَلصَّفَّاتْ ayat 100 - 106, Allah swt. berfirman:
رَبِّ هَبْ لِىْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ. فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلاَمٍ حَلِيْمٍ. فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ اِنِّى اَرَى فِى الْمَنَامِ اَنِّى اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى، قَالَ يَآ اَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِى اِنْ شَآءَ اللّهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ. فَلَمَّا اَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِيْنِ وَنَادَيْنَاهُ اَنْ يَآ اِبْرَاهِيْمُ، قَدْ صّدَّقْتَ الرُّؤْيَا اِنَّا كَذلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ. اِنَّ هذَا لَهُوَ الْبَلآءُ الْمُبِيْنُ.
"Ya Tuhanku, anugerahilah aku anak yang saleh. Kemudian Kami berikan kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang penyantun. Setelah anak itu dapat melakukan usaha bersamanya, Ibrahim berkata kepadanya, "Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi dalam tidurku bahwa aku menyembelih engkau. Maka pertimbangkanlah bagaimana pendapatmu?" Sang anak menjawab, "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan itu. Niscaya ayah akan mengetahui bahwa diriku termasuk orang-orang yang sabar, insya Allah". Maka ketika keduanya telah mematuhi perintah Allah dan pipi sang anak sudah ditempelkan di atas tanah, maka Kami berseru kepadanya: "Wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah mematuhi perintah berdasarkan mimpi itu!" Dan sesungguhnya dengan cara seperti itulah Kami membalas orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya peristiwa ini adalah suatu ujian yang nyata!"

ESENSI BERKORBAN DAN IMPLEMENTASINYA DALAM KEHIDUPAN


Oleh : KH. Ahmad Zarkasyih Saiman


الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر كبيرا, والحمد لله كثيرا, وسبحان الله بكرة واصيلا.
الحمدلله الذي لا تخطر كيفيته ببال. ولا يجري ما هيته فى مقال. ولا يدخل فى الامثال والاشكال. ولايؤول الى التحويل والانتقال. اشهد ان لااله الاالله وحده لاشريك له الذي عظم هذااليوم قدره وخصه بشعاءره, وشرفه بماثره, واختاره على الايام, وابان فضيلته للا نام, كرامة من ربنا الكبير المتعال. واشهد ان سيدنا ونبينا محمدا عبده ورسوله الذي بعثه عند ظهورالجهال. وغلبة الكفر والضلال. فنصح لامته فى القول والفعال. وجاهد فى الله على كل حال. حتى ا عتدل الحق اي اعتدال. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه اهل الفضل والكمال. صلاة داءمة بالغدو والاصال. نامية على الشهور والاحوال. اما بعد : فأوصيكم عباد الله واياي بتقوى الله والجهاد فى سبيله بالانفس والاموال. طاعة لامر مولانا ذىالعزة والجلال

الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Alhamdulillah puja dan puji syukur, kita panjatkan kehadirat Allah Swt, yang telah melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepada kita semua. Di pagi hari yang mulia ini, kita diberi kesempatan untuk menyambut dan merayakan hari raya Idul Adha 1435 H, umat Islam di seluruh belahan bumi ini tak terkecuali yang ada dinegeri ini, juga tengah merayakan hari yang agung ini dengan alunan takbir, tahmid, tasbih dan tahlil. Gema takbir itupun diperintahkan untuk terus dikumandangkan selama hari nahar, tasyriq yaitu tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Belajar Ekonomi Islam dari Kisah Anak Nabi Adam AS

Dalam al-Quran surah al-Maidah: 27-30 Allah SWT mengisahkan dua anak Nabi Adam AS. Ayat-ayat ini mengisahkan tentang perselisihan sesama manusia pertama kali yang berakhir dengan pembunuhan. 
Seperti yang diungkapkan dalam beberapa tafsir, bahwa Siti Hawa setiap mengandung melahirkan dua orang anak alias kembar, satu laki-laki dan satu perempuan. Kemudian syariat menetapkan untuk perkawinan secara silang, yakni anak laki-laki dari kelahiran pertama dinikahkan dengan anak perempuan dari kelahiran yang kedua. Begitu pula sebaliknya, anak laki-laki dari kelahiran yang kedua dinikahkan dengan anak perempuan dari kelahiran yang pertama.
Pada kelahiran pertama, Siti Hawa melahirkan Qabil dan saudara perempuannya. Dan pada kelahiran yang kedua Habil dan saudara perempuannya. Menurut ketentuan syariat ketika itu, maka Habil harus

UMAT ISLAM PERLU SIAP BERKORBAN JIKA TIDAK INGIN MENJADI KORBAN

Allahu Akbar 9x, Walillahilhamd
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah

Alhamdulillah, puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa ta'ala, yang telah melimpahkan nikmat-Nya kepada kita. Di pagi hari yang mulia ini, kita diberi kesempatan untuk menyambut dan merayakan Idul Adha . Umat Islam di seluruh belahan bumi, tak terkecuali yang ada di negeri ini, juga sedang merayakan hari yang agung ini dengan alunan takbir, tahmid, tasbih, dan tahlil. Gema takbir itu pun diperintahkan untuk terus dikumandangkan selama hari tasyrik, tanggal 11, 12 , dan 13 Dzulhijjah.

Allahu Akbar 3x, Walillahilhamd

Sementara itu, jutaan umat Islam yang sedang menunaikan ibadah haji, pada hari ini sedang berkumpul di Mina. Iring-iringan mereka bergerak dengan perlahan, sejak dari Jumratul 'Ula, Jumratul Wustha, hingga Jumratul 'Aqabah. Mereka yang datang dari berbagai penjuru dunia, dengan beragam suku, bangsa, bahasa, dan warna kulit, bersatu padu dengan langkah yang sama untuk memenuhi panggilan Allah Subhanahu wa ta'ala.

Khutbah Idul Adha 1436 H: Empat Prinsip Hidup

لْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Segala puji untuk Allah SWT yang telah memberi kesempatan kepada kita sekali lagi untuk menikmati ibadah shalat Idul Adha setelah kita berpuasa Arafah hari kemarin. Kenikmatan ibadah amat dirasakan oleh sekitar 3 s/d 4 juta umat Islam dari seluruh dunia yang tengah menyelesaikan tahap akhir ibadah haji di tanah suci.
Kita doakan semoga jamaah haji kita meraih mabrur, sehat dan bisa kembali ke Tanah air masing-masing dengan warna keislaman yang menyeluruh dan memiliki semangat perjuangan menegakkan ajaran Islam setelah berada di tempat bersejarah dari tumbuh dan berkembangnya Islam.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad saw beserta keluarga, sahabat dan para penerusnya hingga hari akhir nanti.
Takbir, tahlil dan tahmid kembali menggema di seluruh muka bumi ini sekaligus menyertai saudara-saudara kita yang datang menunaikan panggilan agung ke tanah suci guna menunaikan ibadah haji, rukun Islam yang kelima.

HARI RAYA QURBAN

MEMAKNAI IDUL ADHA
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (Qs. Al Kautsar: 2). Di antara tafsiran ayat ini adalah “berqurbanlah pada hari raya Idul Adha (yaumun nahr)”. Tafsiran ini diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu ‘Abbas, juga menjadi pendapat ‘Atho’, Mujahid dan jumhur (mayoritas) ulama.

Muqaddimah

Bulan ini merupakan bulan bersejarah bagi umat Islam. Pasalnya, di bulan ini kaum muslimin dari berbagai belahan dunia melaksanakan rukun Islam yang kelima. Ibadah haji adalah ritual ibadah yang mengajarkan persamaan di antara sesama. Dengannya, Islam tampak sebagai agama yang tidak mengenal status sosial. Kaya, miskin, pejabat, rakyat, kulit hitam ataupun kulit putih semua memakai pakaian yang sama. Bersama-sama melakukan aktivitas yang sama pula yakni manasik haji.

Selain ibadah haji, pada bulan ini umat Islam merayakan hari raya Idul Adha. Lantunan takbir diiringi tabuhan bedug menggema menambah semaraknya hari raya. Suara takbir bersahut-sahutan mengajak kita untuk sejenak melakukan refleksi bahwa tidak ada yang agung, tidak ada yang layak untuk disembah kecuali Allah, Tuhan semesta alam.

Pada hari itu, kaum muslimin selain dianjurkan melakukan shalat sunnah dua rekaat, juga dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban bagi yang mampu. Anjuran berkurban ini bermula dari kisah penyembelihan Nabi Ibrahim kepada putra terkasihnya yakni Nabi Ismail.

Nilai-Nilai Haji dan Qurban

Tujuan ibaadah haji yang dilakukan umat islam  bukan untuk Allah, tetapi untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Hakikat manusia sebagai makhluk  dipraktikkan dalam pelaksanaan ibadah haji, dalam acara-acara ritual, atau dalam tuntunan non-ritualnya, dalam bentuk kewajiban atau larangan, dalam bentuk nyata atau simbolik dan semuanya, pada akhirnya mengantarkan seorang haji hidup dengan pengamalan dan pengalaman kemanusiaan universal.

Ihram : Disinilah pijakan pertama kali ritual ibadah haji di mulai, meliputi mandi  sunah, mengenakan pakaian ihram, niat dan sholat sunah 2 rakaat.

Niat merupakan pilar bagi semua ibadah.Maka tidak salah jika nilai sebuah ibadah tergatung pada niatnya dan kesempurnaan ibadah terletak pada prakeknya.

Ihram terdapat berbagai muatan nilai berupa theologis bahwa esensi haji absolut sebagai bentuk panghambaan kepada sang pencipta, dengan niat pengesaan tanpa elemen-elemen duniawi. Dimensi pisikologis setiap manusia akan merasakan gejolak jiwa ketika bertemu dengan yang disukainya, baik berupa perasaan senang, khawatir, takut dan lain sebagainya. Seperti hal nya ketika Ihram saat melepas semua pakaian berjahit dan berniat melakukan haji dengan segala bentuk ritual yang disyariatkan, berbagia rasa berbaur dalam hati manusia.Hingga mencapai sebuah puncak pengalaman spiritual manusia yang bersifat universal.

Thawaf: yakni mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali. Al Qur’an menyebutkan Ka’bah merupakan rumah yang pertama kali dibagun (lht surat Al-Imran:96), Pelatakan batu pertama oleh nabi Ibrahim As pada central bumi berdasarkan ilham ilahi, Ka’bah secara vertikal satu titik dengan baitul ma’mur yakni tempat dimana para malaikat bertawaf. Sains telah mengungkap sebuah fakta bahwa Ka’bah terletak di central bumi, sebagi syimbol rotasi alam semesta dimana matahari sebagai pusat tata surya  dikeliling oleh pelanet-pelanet.Disebutkan dalam riwayat bahwa ritual thawaf pertama kali dilakukan oleh nabi Adam As. Sebagi bentuk tobat kepada Allah Swt. Ka’bah dikelilingi oleh jutaan umat muslim diseluruh dunia dengan membentuk putaran yang memusat pada satu titik, dengan penuh pengharapan, kerendahan diri dan penyucian jiwa. Semua manusia ketika berthawaf memusatkan gerakan kepada Ka’bah meski himpitan dan desakan tak dapat dihindari.

Sa’i: secara literal berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah selama tujuh kali putaran, banyak para ulama menafsirkan makna dibalik angka tujuh, diantaranya tujuh lapisan langin dan bumi, namun apapun makna dibalik itu semua, ritual Sa’i dengan tujuh kali putaran bersifat tawqifi dan hakikat sebenarnya hanya diketahui oleh sang pencipta.

Sa’i memiliki syimbol eskistensi perjuangan hidup manusia bahwa kehidupan selalu bergerak dan usaha merupakan bukti dari pada pergerakan hidup.

Secara historis Sa’i dilakukan pertama kali oleh seorang perempuan yang bernama Siti Hajar, beliau berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwa selama tujuh kali, guna mencari air untuk sang buah hati yakni Ismail As. Kala itu mereka berdua berada  padang pasir yang tandus tanpa oase maupun pepohonan. Demi bertahan hidup sang buah hati, sang ibu bersusah payah mencari air, karna airlah merupakan sumber kehidupan.“ Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu”(QS.Al Anbiya:30)

Tokoh Siti Hajar mewakili social kultural saat itu dimana kedudukan wanita dipandang rendah, dan identitas Hajar sebagai budak dari kasta rendah, yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat kala itu. Namun Allah Swt  melalu sosok Siti Hajar mengangkat derajat perempuan tanpa memandang identitas social semua sama dihadapan sang pencipta.
Bukti ketaatan perempuan sebagai seorang istri, yang ditinggalkan suaminya dipandang pasir yang tandus masih terkenang sampai saat, bukti dari perjuangan seorang ibu untuk sang buah hati kini menjadi ritual suci dalam ibadah haji.

Air zam-zam sampai saat ini terus mengalir, bersih dan penuh berkah mengisyaratkan bahwa layaknya manusia mencari sumber kehidupan yang bersih, halal sehingga memberikan keberkahan. makna esoteris lain dari sa’i ialah laykanya manusia melepaskan dirinya dari rasa takut dan hanya berharap kepada Allah Swt.

Wuquf Arafah: wuquf merupakan pilar utama dari ibadah haji sebagai mana sabda Rasulluallah Saw.” Al haju arafah”.Wuquf di Arafah merupakn ritual yang paling sakral dalam prosesi ibadah haji.Wuquf secara eptimologi yakni berdiam diri.Dalam ayat-ayat al qur’an terdapat banyak kolerasi antara haji dengan mengingat Allah Swt. Dalam surat Al Baqarah ayat 199-203 disebutkan esensi ibadah haji secara berurutan yakni mengingat Allah Swt. Sehingga wuquf memiliki makna berdiam diri dipadang yang luas untuk mengingat Allah Swt. dengan berdoa dan berkontemplasi memaknai hakikat siapa diri ini dan kemana akan kembali.

Wuquf memiliki pesan elgaliter persamaan semua manusia dari seluruh penjuru dunia, tanpa memandang ras, suku, martabat, tahta, bahasa dan lain sebagainya. Mereka berada dalam satu tempat yang sama, dengan satu kain pakaian yang sama, dibawah sengatan sinar matahari, semua sama-sama bermunajat kepada Allah Swt. Tak ada yang membedakan satu sama lainnya dihadapan Allah Swt. Kecuali ketakwaan. Semua manusia akan berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.

Wuquf merupakan gambaran hari mahsyar, dimana kelak seluruh manusia dikumpulkan dibawah sengatan matahari tanpa sehalai kain, hanya amal merekalah yang menentukan. Sebagai mana Allah Swt. Berfirman dalam surat Al Syu’ura:88-89 “Hari di mana harta dan anak-anak tak akan berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Dan di hari itu didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertaqwa, dan diperlihatkan dengan jelas neraka kepada orang- orang yang sesat)”.

Wuquf memiliki pisikologis ketika manusia merasa satu perasaan, memiliki persamaan maka akan menimbulkan rasa saling memiliki, saling mengasihi dan menimbulkan persaudaraan. Dari persaudaraan ini lah timbul persatuan. Dalam skala besar makna persatuan umat muslim diseluruh dunia merupakan sumber kekuatan Islam.

Melempar jumroh:yakni melempar tujuh kali batu di mina pada tiga tempat yakni jumrah aqobah, wusto dan ula. Melempar jumroh merupakan symbol pengusir syetan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim As. Ketika beliau hendak melaksanakan perintah Allah Swt. Untuk menyembelih Nabi Ismail As. Melempar jumroh memiliki makna pembersihan sifat-sifat kesetanan dalam diri manusia, keegoistikan dan simbol nyata bahwa setan merupakan musuh manusia artinya pelemparan batu yang berkali-kali dan dalam tempat yang berbeda, mengisyaratkan bahwa dengan segala macam cara syetan akan mengajak anak cucu adam dan menyesatkannya dari jalan yang lurus. Makna esetoric dari melempar jumroh pembebasan hati manusia dari hawa nafsu dan menjauhi perintah syetan, menuju kepada ketaatan yang hakiki.

Berqurban: Secara eptimologi yakni dekat atau mendekatan diri. Dalam Haji berqurban berarti mendekatkan diri kepada Allah, melalui penyembelihan ternak yang merupakan simbol kepatuhan dan ketaatan sebagai salah satu bentuk ketaqwaan kepada Allah Swt.

Dimensi historis qurban merupakan puncak pengorbanan tertinggi dari bapa pada nabi setelah melewati fase-fase ujian dan cobaan yang begitu berat, sampai akhirnya nabi Ibrahim As. Dapat melewati segala proses tersebut. Nabi Ibrahim sebagai simbol seorang ayah yang merelakan anaknya di qurbankan, padahal sang buah hati sangat disayanginya, sejak kecil ikatan seorang ayah dengan anaknya terpisahkan, ketika menginjak dewasa nabi Ibrahim As. Harus mempersembahkan sang buah hatinya kepada sang pencipta. Artinya qur’ban merupakan totalitas kepasrahan, kerelaan seorang hamba.Dan merupakan persembahan terbaik dari seorang hamba. Karna persembahan terbaik itulah yang akan diterima oleh Allah Swt. Sebagaimana dikisahkan oleh kedua anak Adam, Qabil dan Habil (lihat. Qs. Al Maidah:29)

Tahalul merupakan prosesi  dalam ritual ibadah haji dengan mencukur sebagian rambut. sebagai symbol rasa syukur dan pembersihan jiwa dari hal-hal yang kotor. Sehingga manusia kembali kepada fitrah asalnya.

Makna yang yang ada dalam ibadah haji baik secara ekpilist maupun inplisit dan esoteris inilah  selayaknya diaplikasikan oleh umat muslim dalam kehidupan sehari-hari.
Kapan Idul Adha  2014 ???
Mekkah
Bulan baru terjadi tanggal 24 September 2014 jam 9:14 pagi waktu Mekkah. Dan bulan akan terbenam pukul 18:21 waktu Mekkah. Matahari terbenam hari itu pukul 18:15 serta ketinggian bulan hari itu sekitar 0.9° ketika matahari tenggelam. Secara astronomi cukup sulit melihat bulan/hilal pada ketinggian tersebut dan cuma punya waktu sekitar 5 menit sebelum ditelan bumi.
Tetapi karena Otoritas Saudi mempunyai sejarah dengan penentuan tanggalan hijriyah yang kadang nyeleneh, apalagi wukuf hari Jumat adalah wukuf favorit (Haji Akbar bagi pengertian sebagian orang) maka menurut kalkulasi saya Saudi akan menetapkan tanggal 1 Zulhijah jatuh tanggal 25 September 2014 dan wukuf di arafah hari Jum’at tanggal 3 Oktober 2014 (tinggal urut kacang saja menentukan 9 zulhijah).
Jakarta
Bulan baru terjadi tanggal 24 September 2014 jam 1:14 siang WIB. Dan bulan akan terbenam pukul 17:51 WIB. Matahari terbenam hari itu pukul 17:48 serta ketinggian bulan hari itu sekitar 0.4° ketika matahari tenggelam. Secara astronomi cukup sulit melihat bulan/hilal pada ketinggian tersebut dan cuma punya waktu sekitar 3 menit sebelum ditelan bumi.
Bagi Muhammadiyah dengan wujudul hilalnya, maka 1 Zulhijah pasti akan jatuh tanggal 25 September 2014 (karena hilal sudah wujud sore 24 September tersebut), otomatis puasa arafah pada hari Jum’at 3 Oktober dan Idul Adha hari Sabtu tanggal 4 Oktober 2014.
Bagaimana dengan pemerintah? Perkiraan saya, karena tinggi hilal kurang dari 2° ketika matahari tenggelam tanggal 24 September, pemerintah tetap akan menentukan 1 Zulhijah jatuh tanggal 26 September. Jadi Pemerintah Idul Adha sesuai dengan keputusan Hari Libur nasional 2014/tanggal merah, yaitu hari Minggu tanggal 5 Oktober 2014 (Berbeda dengan Muhammadiyah dan Arab Saudi). Puasa Arafah jatuh hari Sabtu tanggal 4 Oktober 2014 menurut versi pemerintah.( Tikitaka's Blog
 )


Hikmah di Balik Menyembelih Qurban

Dimensi historis qurban merupakan puncak pengorbanan tertinggi dari bapa pada nabi setelah melewati fase-fase ujian dan cobaan yang begitu berat, sampai akhirnya nabi Ibrahim As. Dapat melewati segala proses tersebut. Nabi Ibrahim sebagai simbol seorang ayah yang merelakan anaknya di qurbankan, padahal sang buah hati sangat disayanginya, sejak kecil ikatan seorang ayah dengan anaknya terpisahkan, ketika menginjak dewasa nabi Ibrahim As. Harus mempersembahkan sang buah hatinya kepada sang pencipta. Artinya qur’ban merupakan totalitas kepasrahan, kerelaan seorang hamba.Dan merupakan persembahan terbaik dari seorang hamba. Karna persembahan terbaik itulah yang akan diterima oleh Allah Swt. Sebagaimana dikisahkan oleh kedua anak Adam, Qabil dan Habil (lihat. Qs. Al Maidah:29)

Pertama: Bersyukur kepada Allah atas nikmat hayat (kehidupan) yang diberikan.

Kedua: Menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim –khalilullah (kekasih Allah)- ‘alaihis salaam yang ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail ‘alaihis salaam ketika hari an nahr (Idul Adha).

Ketiga: Agar setiap mukmin mengingat kesabaran Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimas salaam, yang ini membuahkan ketaatan pada Allah dan kecintaan pada-Nya lebih dari diri sendiri dan anak. Pengorbanan seperti inilah yang menyebabkan lepasnya cobaan sehingga Isma’il pun berubah menjadi seekor domba. Jika setiap mukmin mengingat kisah ini, seharusnya mereka mencontoh dalam bersabar ketika melakukan ketaatan pada Allah dan seharusnya mereka mendahulukan kecintaan Allah dari hawa nafsu dan syahwatnya.[6]

Keempat: Ibadah qurban lebih baik daripada bersedekah dengan uang yang semisal dengan hewan qurban.( [7. Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 2/379)

Raihlah Ikhlas dan Takwa dari Sembelihan Qurban

Menyembelih qurban adalah suatu ibadah yang mulia dan bentuk pendekatan diri pada Allah, bahkan seringkali ibadah qurban digandengkan dengan ibadah shalat. Allah Ta’ala berfirman,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.” (Qs. Al Kautsar: 2)

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, nusuk-ku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (Qs. Al An’am: 162). Di antara tafsiran an nusuk adalah sembelihan, sebagaimana pendapat Ibnu ‘Abbas, Sa’id bin Jubair, Mujahid dan Ibnu Qutaibah. Az Zajaj mengatakan bahwa bahwa makna an nusuk adalah segala sesuatu yang mendekatkan diri pada Allah ‘azza wa jalla, namun umumnya digunakan untuk sembelihan.[8]

Ketahuilah, yang ingin dicapai dari ibadah qurban adalah keikhlasan dan ketakwaan, dan bukan hanya daging atau darahnya. Allah Ta’ala berfirman,

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (Qs. Al Hajj: 37)

Ingatlah, bukanlah yang dimaksudkan hanyalah menyembelih saja dan yang Allah harap bukanlah daging dan darah qurban tersebut karena Allah tidaklah butuh pada segala sesuatu dan dialah yang pantas diagung-agungkan. Yang Allah harapkan dari qurban tersebut adalah keikhlasan, ihtisab (selalu mengharap-harap pahala dari-Nya) dan niat yang sholih. Oleh karena itu, Allah katakan (yang artinya), “ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapai ridho-Nya”. Inilah yang seharusnya menjadi motivasi ketika seseorang berqurban yaitu ikhlas, bukan riya’ atau berbangga dengan harta yang dimiliki, dan bukan pula menjalankannya karena sudah jadi rutinitas tahunan.[9. Lihat penjelasan yang sangat menarik dari Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam Taisir Karimir Rahman fii Tafsiri Kalamil Mannan, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1420 H.]

Menyembelih Qurban Wajib ataukah Sunnah?

Menyembelih qurban adalah sesuatu yang disyari’atkan berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’ (konsensus kaum muslimin).[10] Namun apakah menyembelih tersebut wajib ataukah sunnah? Di sini para ulama memiliki beda pendapat.

[Pendapat pertama] Diwajibkan bagi orang yang mampu

Yang berpendapat seperti ini adalah Abu Yusuf dalam salah satu pendapatnya, Rabi’ah, Al Laits bin Sa’ad, Al Awza’i, Ats Tsauri, dan Imam Malik dalam salah satu pendapatnya.

Di antara dalil mereka adalah firman Allah Ta’ala,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Dirikanlah shalat dan berkurbanlah (an nahr).” (Qs. Al Kautsar: 2). Hadits ini menggunakan kata perintah dan asal perintah adalah wajib. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diwajibkan hal ini, maka begitu pula dengan umatnya.[11 Lihat Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/1529.]   Dan masih ada beberapa dalil lainnya.

[Pendapat kedua] Sunnah dan Tidak Wajib

Mayoritas ulama berpendapat bahwa menyembelih qurban adalah sunnah mu’akkad. Pendapat ini dianut oleh ulama Syafi’iyyah, ulama Hambali, pendapat yang paling kuat dari Imam Malik, dan salah satu pendapat dari Abu Yusuf (murid Abu Hanifah). Pendapat ini juga adalah pendapat Abu Bakr, ‘Umar bin Khottob, Bilal, Abu Mas’ud Al Badriy, Suwaid bin Ghafalah, Sa’id bin Al Musayyab, ‘Atho’, ‘Alqomah, Al Aswad, Ishaq, Abu Tsaur dan Ibnul Mundzir.

Di antara dalil mayoritas ulama adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

“Jika masuk bulan Dzulhijah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih qurban, maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya.”[12]   Yang dimaksud di sini adalah dilarang memotong rambut dan kuku shohibul qurban itu sendiri.

Hadits ini mengatakan, “dan salah seorang dari kalian ingin”, hal ini dikaitkan dengan kemauan. Seandainya menyembelih qurban itu wajib, maka cukuplah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya”, tanpa disertai adanya kemauan.

Begitu pula alasan tidak wajibnya karena Abu Bakar dan ‘Umar tidak menyembelih selama setahun atau dua tahun karena khawatir jika dianggap wajib[13]. Mereka melakukan semacam ini karena mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak mewajibkannya. Ditambah lagi tidak ada satu pun sahabat yang menyelisihi pendapat mereka. [14]

Dari dua pendapat di atas, kami lebih cenderung pada pendapat kedua (pendapat mayoritas ulama) yang menyatakan menyembelih qurban sunnah dan tidak wajib. Di antara alasannya adalah karena pendapat ini didukung oleh perbuatan Abu Bakr dan Umar yang pernah tidak berqurban. Seandainya tidak ada dalil dari hadits Nabi yang menguatkan salah satu pendapat di atas, maka cukup perbuatan mereka berdua sebagai hujjah yang kuat bahwa qurban tidaklah wajib namun sunnah (dianjurkan).

فَإِنْ يُطِيعُوا أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَرْشُدُوا

“Jika kalian mengikuti Abu Bakr dan Umar, pasti kalian akan mendapatkan petunjuk.”[15]

Namun sudah sepantasnya seorang yang telah berkemampuan untuk menunaikan ibadah qurban ini agar ia terbebas dari tanggung jawab dan perselisihan yang ada. Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi mengatakan, “Janganlah meninggalkan ibadah qurban jika seseorang mampu untuk menunaikannya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memerintahkan, “Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu kepada perkara yang tidak meragukanmu.” Selayaknya bagi mereka yang mampu agar tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan. Wallahu a’lam.”[16]

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan ibadah yang mulia ini dan menerima setiap amalan sholih kita. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amalan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.

Footnote:

[10] Lihat Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/1527.

[11] Lihat Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/1529.

[12] HR. Muslim no. 1977, dari Ummu Salamah.

[13] Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ no. 1139 menyatakan bahwa riwayat ini shahih.

[14] Lihat Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/1529.

[15] HR. Muslim no. 681.

[16] Adhwa-ul Bayan fii Iidhohil Qur’an bil Qur’an, hal. 1120, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah Beirut, cetakan kedua, tahun 2006.

Jakarta 2014

Tanpa Pengorbanan Jangan Harap Ada Keberhasilan

IMG00234-20121024-1439

اللهُ أكْبَرُ × 9

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الأُمَم، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.

Keteladanan Nabi Ibrahim AS

Sahabat Cerpi pada kesempatan kali ini Ceramah Pidato akan share mengenai contoh naskah Khutbah Idul Adha atau Idul Qurban tahun 2015, Yup pada hari Kamis tanggal 24 September 2015, Umat Islam akan masuk pada hari raya Haji atau Hari Raya Idul Adha 1436 H, nah berikut ini contoh Khutbah Idul Adha yang berjudul: “Keteladanan Nabi Ibrahim AS” Simaklah:
khutbah idul adha
Khutbah pertama:
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (×3)اللهُ اَكبَرْ (×3
اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ للهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ
اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

DENGAN ‘IDUL ADHA KITA WUJUDKAN SOLIDARITAS SOSIAL


الله أكبر ×9 لا إله إلا الله، والله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.


Hadirin, Sidang Jamaaah Idul Adha yang berbahagia!

KHUTBAH IDUL ADHA 2013 TERUPDATEKesadaran dan keinsyafan untuk berkurban karena Allah inilah yang merupakan makna hakiki dari “Id al-Adha. Makna ini akan dirasakan kemanfaatannya apabila diwujudkan ke dalam kehidupan realitas kita melalui makna instrumental-nya.

II. Makna Hakiki Idul Adha
Dalam kesederhanaan, nilai (ajaran) kurban ini tergambar di dalam penyembelihan hewan kurban itu sendiri; (1) niatnya karena Allah , (2) yang sampai kepada Allah bukan darah atau daging kurban tetapi keimanan dan ketakwaan orang berkurban,(3) daging kurban itu sendiri didistribusikan secara adil dan merata terutama kepada mereka yang benar-benar membutuhkan sebagai kepedulian kepada lingkungan dan upaya meningkatkan kebersamaan solidaritas sosial, (4) pendistribusian secara adil dan merata, dilakukan sebagai pengamalan perintah syukur atas nikmat dan karunia yang diberikan oleh Allah.(5) dan pahala pertama, untuk orang yang berkurban itu sendiri dan kedua, untuk semua pihak yang mendukung dan menciptakan suasana yang kondusif hingga terselenggaranya aktivitas pengorbanan karena Allah.Demikian juga bagi mereka yang sedang melaksanakan haji, jika mereka diwajibkan menyembelih (unta, kambing, biri-biri, dan sapi), hendaklah disembelih di tanah haram dan dagingnya di hadiahkan kepada fakir miskin dalam rangka ibadah haji.

Qurban, Pengertian dan Sejarah Singkat

Oleh  KH. Muammal Hamidy*
Pengertian
Qurban, yang dalam fiqih Islam dikenal dengan udh-hiyah jama’nya adhahi yaitu hewan yang dipotong dalam rangka taqarrub kepada Allah, berkenaan dengan tibanya Idhul Adh-ha atau yaumun nahr , pada tanggal 10 Dzulhijjah. Disebut hari nahr (atas dada),  karena pada umumnya, waktu dulu, hewan yang dipotong itu adalah onta yang cara pemotongannya atau penyembelihannya dalam keadaan  berdiri dengan ditusuk-kannya pisau ke lehernya dekat dada onta tersebut. Kemudian di kalangan kita popular dengan sebutan “qurban” artinya sangat dekat, karena hewan itu dipotong dalam rangka taqarrub kepada Allah. Nama ini diambil dari kisah dua putera Adam AS seperti tersebut dalam al-Qur’an surat al-Maidah 27 :
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil), lalu. Qabil (kepada Habil): “Aku kubunuh kamu!”. Jawab Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa”.
Menurut riwayat, hal itu dilakukan ketika Adam AS hendak mengawinkan putera puterinya dengan bersilang Qabil yang kembar dengan Iqlimiya’, dan Habil yang kembar dengan Layudza. Qabil dijodohkan dengan Layudza, sedang Habil dengan Iqlimiya’. Qabil menolak, karena Layudza tidak secantik Iqlimiya’. Karena perjodohan atau perkawinan itu syari’at Allah, maka untuk mengubah aturan ini haruslah mendapatkan perkenan Allah,. Maka oleh ayahanda Adam AS yang nabi, keduanya disuruh berqurban, mana yang diterima qurbannya itulah yang diidzinkan Allah. Dan ternyata qurbannya Habil yang diterima.
Sejarah Qurban
Qurban yang bertepatan dengan Idul Adh-ha itu adalah berkenaan dengan kisah nabi Ibrahm AS yang